oleh

Temuan Arkeologis yang Perkuat Hipotesis Situs Kumitir Sebagai Istana Paman Hayam Wuruk

Mojokerto – Situs Kumitir di Kabupaten Mojokerto diyakini sebagai sisa-sisa istana Bhre Wengker, paman Raja Majapahit Hayam Wuruk. Di dalam istana ini terdapat tempat suci untuk menghormati Mahesa Cempaka. Apa saja temuan arkeologis yang mendukung hipotesis tersebut?

Ketua Tim Ekskavasi Situs Kumitir, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, bukti arkeologis pertama adalah ditemukannya tembok keliling di Dusun Bendo, Desa Kumitir, Kecamatan Jatirejo. Dinding dari susunan bata merah itu mempunyai ketebalan 140 cm dan tinggi 120 cm.

Tembok ini mengelilingi Situs Kumitir hingga membentuk area persegi panjang seluas 64.148 meter persegi atau 6,4 hektare. Karena panjang tembok kuno ini dari barat ke timur 316 meter dan 203 meter membentang dari utara ke selatan.

Pada zaman Majapahit, menurut Wicaksono, tembok seperti itu hanya dibangun mengelilingi istana raja. Analisisnya diperkuat literatur Yingyai Shenglan. Yaitu kronik perjalanan ekspedisi Cheng Ho, pelaut utusan Dinasti Ming di Tiongkok.

Kronik atau catatan peristiwa tersebut ditulis Ma Huan penerjemah Cheng Ho. Ma Huan dan Cheng Ho berkunjung ke Majapahit pada abad 15 masehi.

“Dalam catatan China itu, Tuban, Gresik dan Kedaton Majapahit merupakan tiga kota yang tidak memiliki tembok kota. Yang memiliki dinding keliling hanya istana, seperti di Situs Kumitir kami temukan dinding keliling. Berbeda dengan di China, setiap kota dikeliling tembok besar karena rawan perampokan Bangsa Mongol,” kata Wicaksono kepada detikcom, Rabu (17/3/2021).

Baca Juga  Menparekraf Bersama SMSI Bangun Bangkitkan Sektor Pariwisata

Tim ekskavasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim menemukan struktur kuno di area yang dikelilingi tembok tersebut. Yakni di sektor ekskavasi A, B dan C. Ketiga sektor itu persis di sebelah barat pemakaman umum Dusun Bendo.

Struktur dengan luas 20 x 26 meter persegi ini menghadap ke barat, lurus dengan gerbang yang ditemukan di tembok sisi barat. Bangunan ini tersusun dari bata merah kuno. Campuran bata merah dan bebatuan bulat (bolder) menjadi pondasinya.

Di dalam bangunan purba ini ditemukan banyak genting, batu andesit persegi, beberapa ukel, lantai segi delapan, fragmen porselin, mainan anak-anak, selubung tiang, umpak, serta bata inskripsi. Selain itu, tim ekskavasi juga menemukan 3 sumur kuno di sebelah utara, barat dan selatan struktur.

“Temuan-temuan arkeologis menunjukkan ini bukan candi, tapi bangunan semacam pendapa dengan fondasi dari batu dan bata, tiang kayu dan atap genting. Menandakan itu suatu permukiman yang besar,” terang Wicaksono.

Arkeolog BPCB Jatim ini menjelaskan, berbagai temuan arkeologis memperkuat hipotesis Situs Kumitir sebagai sisa-sisa istana Bhre Wengker. Hipotesis tersebut mengacu pada sejumlah literatur. Antara lain Kitab Negarakertagama, Kidung Wargasari dan Pararaton.

“Disebutkan tempat pendarmaan Mahesa Cempaka di Wengker. Di Wengker bukan berarti lokasinya di Ponorogo sebagai wilayah kekuasaan Bhre Wengker, tapi di Kumitir merupakan istana Bhre Wengker. Di dalam Kitab Negarakertagama pupuh 41 disebutkan di timur (keraton Majapahit) menjulang istana ajaib Bhre Wengker dan Rani Dhaha atau Bhre Dhaha,” jelas Wicaksono.

Baca Juga  Kemenag siap fasilitasi Muktamar ke-20 Mathla’ul Anwar

Bhre Wengker bergelar Wijayarajasa, kata Wicaksono, merupakan raja kecil atau raja negara bagian yang menjadi bawahan Raja Majapahit. Kala itu Majapahit dipimpin Hayam Wuruk tahun 1350-1389 masehi. Bhre Wengker menikah dengan Bhre Dhaha yang bergelar Rajadewi Maharajasa. Bhre Dhaha dan Tribuana Tunggadewi sama-sama putri Raden Wijaya, raja pertama Majapahit.

Dengan begitu, Bhre Wengker adalah menantu Raden Wijaya sekaligus paman Raja Hayam Wuruk. Karena Hayam Wuruk anak Tribuana Tunggadewi. Wijayarajasa menjadi Raja Wengker pertama yang istananya diyakini berada di Ponorogo. Selain itu, wilayah kekuasaan Wengker juga meliputi Trenggalek dan Madiun.

Sisa-sisa bangunan kuno di Situs Kumitir diyakini bukan istana tetap Bhre Wengker. Menurut Wicaksono, istana ini hanya menjadi tempat transit Bhre Wengker saat dipanggil menghadap Raja Hayam Wuruk. Di dalam Kitab Negarakertagama dijelaskan tata letak keraton Majapahit atau Wilwatiktapura. Yaitu istana Hayam Wuruk dikelilingi istana raja-raja bawahan Majapahit.

“Di dalam Wilwatiktapura ada beberapa komponen, termasuk beberapa puri-puri atau istana raja-raja bawahan Majapahit. Ketika mereka dipanggil ke Majapahit, mereka punya vila sendiri. Jadi, bukan sebagai tempat tinggal, hanya rumah singgah,” ungkapnya.

Ekskavasi Situs Kumitir yang diyakini telah mengungkap istana Bhre Wengker, diharapkan memicu optimisme baru untuk menemukan istana Raja Hayam Wuruk. Penguasa Majapahit termashur itu dipercaya mempunyai istana yang lebih luas dan megah.

Baca Juga  LSI : Kepercayaan Publik Terhadap Jokowi Anjlok Dibawah 50 Persen

“Temuan Kumitir diharapkan menjadi titik balik untuk menggalakkan kembali upaya rekonstruksi istana Majapahit di kawasan cagar budaya Trowulan,” cetus Wicaksono.

Ia menegaskan, hipotesis baru ini tidak mematahkan yang lama. Yakni Situs Kumitir menjadi tempat pendarmaan atau tempat menghormati Mahesa Cempaka, salah seorang raja bawahan Singosari. Dia meyakini, Bhre Wengker membangun tempat suci untuk menghormati leluhurnya, Mahesa Cempaka di dalam istananya yang kini menjadi Situs Kumitir.

“Tempat pendarmaan secara konsep bisa dibangun di dalam istana, tapi bentuknya tidak harus candi, tapi sebatas pelinggih seperti di istana-istana Bali untuk memuja para leluhurnya. Walupun di Negarakertagama disebutkan ini tempat pendaramaan Mahesa Cempaka, secara konsep tidak bisa dikerjakan. Karena Mahesa Cempaka bukan raja yang bisa didarmakan. Maka diartikan sebagai tempat suci untuk menghormati Mahesa Cempaka di Wengker,” tandasnya.

Mahesa Cempaka meninggal pada 1268 masehi. Semasa hidupnya, dia menjadi Bhre Dhaha, salah satu negara bagian Singosari. Sementara Singosari kala itu dipimpin saudara tirinya, Wisnu Wardhana.

Mahesa Cempaka merupakan keturunan kedua Ken Arok dengan Ken Dedes. Dia adalah kakek Raden Wijaya, pendiri Majapahit. Sedangkan Wisnu Wardhana keturunan kedua dari Tunggul Ametung dengan Ken Dedes. (*/cr4)

 

Sumber : jatim.siberindo.co

News Feed