oleh

Pria Asal Gunungkidul Ubah Mitsubishi Galant Hiu Mirip Lamborghini

Jogja – Suharyanto (42), pemilik bengkel High Class Auto Custome, yang berada di Pedukuhan Nogosari III, Kalurahan Bandung, Kapanewonan Playen, Kabupaten Gunungkidul, mulai mencoba mobil yang selesai mereka kerjakan, yakni mobil mirip supercar Lamborghini Aventador. Mulai Sabtu (6/3/2021) siang, Suharyanto bersama krunya terlihat lalu lalang di beberapa ruas jalan, terutama jalan baru Gading Playen-Ngalang Gedangsari.

Menurut Suharyanto, uji coba ini menjadi puncak dari proses pengerjaan mengubah mobil Mitsubishi Galant Hiu keluaran tahun 2000 menjadi mirip mobil sport Lamborghini Aventador. Dua tahun lebih Suharyanto memulai proses mengubah mobil Mitsubishi Galant Hiu menjadi Lamborgini Aventador.

Warga Playen ini mengaku mengerahkan segala kemampuan yang ia dapat dari pengalamannya ikut bengkel custom di kota lain. Sebab, ia tidak pernah mengenyam pendidikan teknik mesin secara formal.

Meskipun hanya lulusan SMP, tetapi ia mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam mengubah Mitsubishi Galant Hiu menjadi Lamborghini Aventador. Bagian tersulit hanyalah memindah mesin dari bagian depan menjadi di bagian belakang mirip mobil asal Italia tersebut.

Baca Juga  Kemenparekraf Menyiapkan Satgas Anti-Pembajakan

“Untuk memindah mesin tersebut, saya membutuhkan waktu sekitar 4 bulan,” tutur Suharyanto.

Untuk urusan mesin, pekerjaan yang paling sulit adalah membuat dudukan (rumah) mesin tersebut di bagian belakang serta tetap bisa menjaga power steering dari mobil, sehingga terus stabil. Di samping itu, ia juga harus meng-upgrade kapasitas mesin dari 2.500 cc menjadi 2.600 cc.

Sementara untuk pengerjaan fairing atau bodi mobil, waktunya cukup lama karena membutuhkan sesuatu yang sangat detil, apalagi pemilik mobil memilih untuk menggunakan bahan dari pelat baja ketimbang dengan fiber. Alasannya, ketika menggunakan pelat akan lebih aman dibanding fiber.

“Kalau fiber misalnya nabrak itu patah atau pecah, tetapi kalau pelat tidak demikian. Jadi sekarang banyak yang memilih menggunakan pelat,” ujarnya.

Suharyanto mengaku tidak semua mobil sedan bisa dirubah menjadi Lamborgini Aventador. Ia sengaja memilih mobil yang memiliki mesin berkapasitas di atas 2.000 cc dengan alasan suaranya bisa menyerupai aslinya.

Baca Juga  Sinergi Sucofindo dan Indonesia Halal Lifestyle Center Untuk Membangun Ekosistem Industri Halal

“Biar lebih mantap, mesinnya saya upgrade menjadi 2.600 cc,” terangnya.

Untuk detail bentuk mobil Lamborgini Aventador tersebut, ia mengaku banyak mempelajari dari tayangan YouTube, lebih banyak dari foto. Agar lebih bagus lagi, ia sengaja membeli miniatur mobil Lamborghini Aventador sesuai pesanan konsumennya.

“Ada beberapa bagian bodi yang harus pesan secara khusus. Kalau lampu dan kaca kita pesan. Cuma bodi dan spion kita buat sendiri memakai galvanis, fiber, dan akrilik,” ungkapnya.

Khusus untuk proyek Lamborghini Aventador ini, dirinya sengaja menanam air suspensi untuk menyesuaikan kontur jalan di Yogyakarta dan di Indonesia pada umumnya. Suharyanto mengaku telah mengeluarkan biaya Rp350 juta lebih untuk menyelesaikan tugasnya.

Proyek ini merupakan mobil kedua yang ia kerjakan di bengkelnya. Sementara, mobil pertama yang ia kerjakan sebenarnya juga sama, tetapi tidak seheboh yang kuning ini. Secara keseluruhan, ia telah membentuk 6 Mitsubishi Galant Hiu menjadi Lamborgini Aventador, di mana 4 lainnya dikerjakan ketika dirinya bekerja pada bengkel custom lain.

Baca Juga  Pelantikan dan Sarasehan PWI Jombang Dijadwalkan Menghadirkan Sejumlah Tokoh

Suharyanto mengaku tidak memiliki ilmu teknik mesin dari pendidikan formalnya untuk memodifikasi mobil. Ia hanya memiliki pengalaman ikut bengkel custom di mana ia pernah bekerja sebelum mendirikan bengkel custom sendiri di dekat tempat tinggalnya.

Suharyanto mengakui adanya kesulitan melakukan uji coba kecepatan mobil yang ia modifikasi tersebut. Pasalnya, ia belum menemukan lokasi ideal di Gunungkidul untuk mencapai kecepatan maksimum. Ada tempat alternatif, hanya saja ketika uji coba tidak diperkenankan mengambil dokumentasi.

“Kemarin di jalan baru top speed kita baru sekitar 120 km/jam. Kalau panjang jalan memadai, nanti bisa mencapai top speed,” ungkapnya. (*/cr4)

 

Sumber : jogja.siberindo.co

News Feed